Kenapa JRX Bergabung di RMBL?


Histori awal RMBL: Pada tahun 2004, saya yang sejak kecil senang menggambar/desain, mencoba membuat sebuah clothing label dengan nama Lonely King. Inspirasi saya waktu itu adalah fillm-film noir, kultur geng motor-mobil tua dan hal-hal outlaw yang bergaya elegan. Semua proses desain saya lakukan sendiri. Sayangnya Lonely King hanya bertahan 2 tahun karena saat itu saya terlalu sibuk dengan SID dan belum memilik tim solid (tim LK hanya berdua, saya dan Sadik). Karena terbengkalai, tahun 2006 Lonely King terpaksa saya non-aktifkan meski hasrat saya untuk menuangkan sisi-sisi liar/pemberontakan secara visual masih membara. Dan sejak itu pula saya 'memasang' mata untuk mencari potensi baru yang kiranya bisa melanjutkan hasrat saya ini.

Dari 2006 - 2010 saya 'mengamati' dunia per-clothing-an Bali. Dan saya lihat ada kecenderungan clothing-clothing lokal (meski tak semua) banyak yang terang-terangan 'meniru' - baik itu secara konsep & estetika - clothing-clothing luar Bali/lnternasional yang sedang 'trend' saat itu. Ok, namanya 'bisnis' saya tak menyalahkan. Kan misi utamanya profit.

 Ditengah serbuan brand-brand lokal yang cenderung seragam itu, saya iseng membuka akun Facebook milik Adi (bassist band rockabilly The Hydrant) yang mem-posting beberapa karya desain-nya. Saat itu saya baru tahu ternyata Adi seorang desainer grafis. Setelah saya pelajari, desain-desain yang ia buat ternyata berhasil mempresentasikan hal-hal liar yang ada di dalam jiwa saya. He's got the soul! Desain-desainnya tidak 'tersentuh' jaman. Melawan arus. Timeless! Inilah orang yang saya cari-cari selama ini!

Setelah saya cari tahu, ternyata Adi sudah memiliki label bernama RMBL yang ia jalankan berdua bersama sahabat baiknya Komar (bassist band Irish-Punk 13% Outlaws). Pada satu kesempatan, mereka menawarkan saya utk menjadi model untuk produk topi pertama mereka.

Melalui beberapa percakapan, saya menawarkan diri untuk ikut bergabung dengan RMBL. Alasan saya: 1. Saya jatuh cinta dgn desain-desain yang dibuat oleh Adi. 2. Saya sudah sangat muak meliihat 'keseragaman' di dalam bisnis clothing di Bali/Indonesia.

Sudah saatnya ada clothing lokal yang bisa 'lepas' dari konsep 'cool' yang didatangkan dari pusat. Sudah saatnya setiap daerah dan remaja nya punya gaya dan cara pikir mereka sendiri, bukan hasil cuci otak dari pihak yg 'itu-itu' saja. Bentuk resistensi inilah yang melahirkan konsep 'Balinese Pride' yang Adi dan Komar ciptakan sebagai identitas RMBL pada awal mereka berdiri.

Karena misi kita sama -mungkin karena selera musik yg sama- Adi dan Komar menerima saya bergabung di keluarga RMBL. Dan tugas saya di RMBL adalah sebagai visioner, konseptor sekaligus propagandis.

Jadi, demikian sejarah singkat tentang apa dan siapa dibalik RMBL yang sebenarnya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi sedikit bayangan kenapa RMBL memang bukan hanya pebisnis murni. RMBL adalah pejuang. Kita ingin menunjukkan pada dunia bahwa ditengah derasnya brainwash media yang makin fuck up ini, setiap daerah seharusnya bisa dan berhak memiliki gaya dan attitude nya sendiri.

Cheers!

JRX

Sumber : Catatan Jrx

Komentar