Mohon Dukungannya Buat Hero Was Die

Hard Rock Rising

Jangan Lupa untuk voting harus Like FanPage Hard Rock Cafe Bali Official Page agar

suara/voting sah!

Vote Hero Was Die di Hard Rock Rising 2012, download 'Hero Was Die' disini


Untuk yang sudah, ayo sebarkan!

Voting harus lewat PC/Komputer. Thanks n cheers!
13.01 | 0 komentar

Jerinx: Dari Sudut Gelap Dunia Fashion

Jrx
Jakarta - Sebelum tulisan ini saya lanjutkan, perlu saya pertegas jika konteks tulisan ini adalah mode cutting-edge sebagai bentuk perlawanan terhadap mode mainstream. Ya. Perlawanan. Seperti kita, khususnya yang masih punya otak, ketahui, industri mode mainstream melahirkan banyak sisi gelap nan kejam yang tercipta berkat trik-trik pemasaran ‘brilian’ mereka dengan anggaran miliaran: overkonsumerisme, adiksi akut terhadap sifat kepemilikan, yang pada akhirnya menjadikan manusia atau konsumennya sebagai mahkluk nihil esensi yang hanya mengejar citra. Dangkal.

Sesuai ‘status’-nya, merek-merek cutting-edge seharusnya menjadi bagian dari counter-culture atau bentuk perlawanan terhadap apapun yang ‘terlalu berkuasa dan merusak’. Dan di zaman global yang serba instan ini, merek apa saja yang mengaku diri sebagai ‘pelawan arus’ semestinya tidak lagi hanya berani ‘melawan’ secara desain dan kualitas (contoh: desain dan kata-kata provokatif dengan bahan berkualitas prime) karena percayalah, hal-hal tersebut sudah ‘disikat’ dan ‘dikemas’ dengan jauh lebih baik dan terkurasi oleh merek-merek mainstream yang ‘terlalu berkuasa’ itu. Jika perlawananmu hanya sebatas desain dan slogan tanpa didukung penekanan esensi dan attitude serta perilaku lapangan yang kuat, kamu akan selalu tertinggal. Dari sinilah ide tulisan ini muncul. You can’t be a wannabe and then expect a genuine love and respect from others just coz you’re playing it ‘safe’.

Jika secara desain dan kualitas kita sudah berada di level ‘bisa diadu’ dengan desain dan kualitas merek mainstream, untuk apa kita mengikuti cara-cara pemasaran mainstream yang 100% hanya bertujuan mencari keuntungan? Lalu apa bedanya kita dengan ‘mere-ka’? Yang membedakan institusi mainstream dengan institusi cutting-edge itu apa? Cari esensinya. Apa yang cutting-edge atau berbahaya tentang sebuah clothing brand yang tujuan utamanya hanyalah keuntungan, tanpa ada pesan perubahan DAN aksi nyata yang kita (sebagai generasi yang muak) ingin sampaikan atau lakukan terhadap peradaban yang makin berkarat ini? Apakah kita ingin meniru merek mainstream dan menjadikan semua konsumen kita sebagai ‘robot pembeli’ tanpa tahu esensi dan alasan apakah mereka ‘membutuhkan’ produk kita atau tidak? Apakah kita mendewakan konsumerisme yang nihil esensi? What’s so dangerous about that? Fuck your ‘cutting-edge’ bullshit if that’s your only goal. Jika dianalogikan dengan dunia musik, tak usah menjual citra indie, cutting-edge, berbahaya jika pesan, lirik, attitude yang disampaikan secara esensi tiada beda dengan band atau musisi mainstream yang cenderung menjual tema-tema ‘penumpulan syaraf kritis’. Sorry, kids, tapi dunia ini sudah lama terbakar dan membutuhkan ‘pengasah-pengasah’ syaraf untuk memadamkannya. Otherwise, we all just become slaves and we’re no other than ‘they are’: a robot, a money-making machine. Just another ‘born-school-work-death’ routine. Sedangkal itukah makna hidup kita?

So take a side, apakah kamu ingin menjadi ‘mereka’ yang ‘menjual’ dan ‘mengemas’ pemberontakan namun hampa kontribusi terhadap ‘perubahan’ itu sendiri (selain perubahan pada grafik saldo tabungan mereka, mungkin)? Atau kamu benar-benar ingin menjadi ‘musuh’ mainstream dan merubuhkan semua pakem-pakem bisnis konvensional, dan membuktikan pada ‘mereka’ jika tanpa mengikuti taktik pemsaran mereka yang ‘aman’ pun kita tetap bisa survive. Bahkan mungkin jadi lebih besar dari mereka.

My point is, untuk semua merek-merek yang mengklaim diri sebagai merek cutting-edge, buktikan identitas kalian bukan hanya ‘kulit’. Tidak hanya dengan menjadikan band atau musisi sebagai mannequin kalian, atau hanya dengan mengadakan dan mendukung acara-acara musik ‘hura-hura’ tanpa esensi perlawanan yang jelas. Give a real contribution and back it up with a real act. Take a look around. Apa yang membuat tidurmu tidak nyenyak? Alam atau lingkungan di daerahmu dirusak oleh penguasa atau investor rakus? Cari LSM yang menangani hal-hal seperti itu dan dukung setiap gerakan mereka dengan merekmu. Bosan melihat perlakuan homophobic masyarakat? Dukung komunitas-komunitas yang terasing dan jadikan mereka bagian dari merekmu. Muak melihat generasi-generasi masa kini yang semakin manja dan maunya serba instan dan trendy? Jangan ikuti kemauan mereka, lalu jejali mereka dengan argumen-argumen yang membuat mereka dan keluarganya menangis. Muak melihat anak-anak muda yang membanggakan pakaiannya hanya karena dipakai juga oleh seorang selebriti? Hajar mereka dengan ideologi dan penekanan esensi. Muak dengan acara-acara TV atau band-band yang ‘menumpulkan’ syaraf kritis dan merdeka kita sebagai manusia? Jangan dukung selebriti atau musisi tersebut dengan merekmu.

Itu hanya beberapa contoh, dan kalian bisa kembangkan kerangka pemikiran tersebut ke banyak aspek yang menurut kalian perlu ‘dilawan’. Jika dulu musik cutting-edge adalah perlawanan, maka kini adalah era di mana apa saja (termasuk pakaian) bisa kamu jadikan belati perlawanan. Semua tergantung pada caramu memaknai dan menjalani. Esensi, esensi dan esensi. Think out of the box: Jika idealis dalam bermusik itu wajar, kenapa idealis dalam memaknai pakaian itu tiba-tiba aneh?

Saya tahu, mematangkan sebuah ideologi itu berat dan mahal. Ia bukan seperti mie instan yang tinggal rebus lalu dimakan begitu saja. Kita seringkali ‘menyerah’ di titik argumen agung para mainstream, “Hidup memang harus seperti itu, kalau mau aman ya harus begini harus begitu bla bla bla.” Fuck that! We have brains, and it’s limitless. Kita manusia, bukan robot. Dan ‘tembok-tembok’ kanker peradaban (overkonsumerisme, pembodohan, pencitraan nihil esensi, kerakusan penguasa dan lain-lain) bisa kita rubuhkan secara perlahan jika kita punya cukup pengetahuan dan nyali untuk melakukannya. Serang dari segala sisi. Dukung setiap perlawanan terhadap ‘tembok-tembok’ tersebut. Itu baru BERBAHAYA, and that’s when you can call yourself a CUTTING-EDGE brand.

Cheers!


From :  RollingStoneINA
00.04 | 0 komentar

Menurutmu, ‘Superman Is Dead’ Apaan Sih?..

Sebuah tulisan menarik , tentang sebuah apresiasi By RVLSNT 

 

“Superman Is Dead itu ya Band, Pejuang and They are cool.” ~ Komar Clash

Mungkin akan menjadi sebuah diary anak kemarin sore yang tahu musik telah mempengaruhi hidupnya. Ya, anak SMP baru beberapa tahun lalu yang tahu seorang kawan memutar kaset album “Kuta Rock City” dengan fasihnya mereka berucap: “Ku benci semua yang tak pasti, woooo… Rambut spikey dibilang funky, Mall dipenuni lambang anarki…” tanpa sadar kaki pun ikut mengikuti hentakan drum dari namanya Jerinx yang setelah melihat dan membaca sampul Albumnya mereka.

“Superman Is Dead? 3 Pria bergambar… Kece… Super Kece. *leleh*” ~ Krisna Pratiwi W.

“Aku suka Superman Is Dead karena ada Jerinx. Ya, aku groupies nya Jerinx. Tapi aku suka Superman Is Dead juga karena liriknya yang berbobot. Beda dengan Top 40 yang menye-menye.” ~ Annisya Primawindy.

Ya, Superman Is Dead. Trio yang bergenre Punk Rock ini telah mengacuhkan pandangan saya dulu terhadap Guns N’ Roses. (kalian boleh tertawa, saya memang dulu penggemar Axl Rose Cs.) Tak perlu bicara atau mengulas banyak, puluhan atau ratusan ulasan mengenai cerita 3 punk rocker asal Bali ini di berbagai media, tapi untuk soal menginspirasi itu lain cerita, kawan. Bagi seorang bocah yang kesehariannya bernuansa religius, lingkungan militer dan pilihan reurbanisasi tentu saja masa yang terbilang sulit untuk mengenal sekelas SID. Mengenal sisi mereka sebagai… idola, apa susahnya? sebenarnya bukan itu, saya bukan sebagai penggemar karbitan maupun kambuhan begitu mereka tenar lalu heboh mendukungnya, tenggelam dan dilupakan. Dulu untuk untuk anak SMP apa sih artinya lirik lagu, mereka mendengar, asik dan suka, stereotype yea. Saya ingat Jerinx dalam tulisannya berucap: “Banyak orang yang bisa bermain skillful, tempo drum hebat, tehnik vokal diatas angin dan bergaya seperti rockstar kebanyakan groupies yang mempunyai masalah kejiwaan [yea right...] tapi jarang banget ada band Indonesia, apalagi yang terkenal, punya lirik berontak yang sekaligus pintar. Ujung2nya paling keras bisanya menghujat pemerintah tanpa ngasi solusi yang jelas, yang buruh bangunan pun bisa melakukan itu sambil menghisap kretek terakhirnya.” - yang dimuat di fans page JRX di Facebook.

Dari album Kuta Rock City, Hangover Decade, Black Market Love dan paling baru Angels and Outsiders dalam kurun waktu hampir 9 tahun hampir melekat dalam telinga, saya banyak belajar dari pribadi mereka yang merujuk pada sesuatu pengalaman dalam perjalanan hidup yang tak pernah terlupakan. Mau balajar? banyak pesan yang disuarakan, kritik sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan agama mereka rangkum dalam lagu dan beberapa tulisan. Dan menurut saya sosok SID terlihat jelas pada album Black Market Love.

“Superman Is Dead itu band yang gak hanya bermusik, tapi menyuarakan apa yang mereka lawan lewat lagu. Garis besarnya sih mereka bukan band yang hanya menghibur.” ~ Hartiny P. Arra Maria

“SID itu nama band kan?! Kalo di industri musik -Superman Is Dead- itu nama band yang berasal dari bali. Kalo diterjemahkan yang artinya Superman Udah Mati.” ~ Echa

Sekarang, mereka sudah terkenal, penggemar yang dinamakan Outsider dan Lady Rose menampakan diri dari berbagai penjuru kota berjumlah ratusan atau ribuan yang bersaing dengan jumlah para anggota slankers dalam menjejali setiap konsernya. Saya pribadi merasa bangga, band dalam negeri yang memulai sejarah dari pait sampe manis bisa mensejajarkan diri dari band mainstream indonesia yang *uhuk*. Kalo secara pribadi, ditanya serunya bersama musik SID, ya banyak. di suruh cerita ya, sehari-semalam. Yang paling seru waktu saya pengen punya cita-cita untuk merontokkan gigi Jerinx *kumaha aing lah*, tanya mengapa… zzZzz

“Superman Is Dead itu band, inspirasi, pembuka wawasan baru buatku.” ~ Citra

“3 Berandalan tampan dari bali penaebar teror bagi mereka yang fanatik terhadap keseragaman. Sebagai fans, aku tidak mau jadi fans yang hanya nongkrong di backstage hanya untuk ketemu mereka, aku tidak mau Idolaku menjadi biasa saja. Rela berbohong demi ke backstage tanpa ngerti arti lagu-lagu mereka, itu bukan aku.” ~ Marsha

“Love them when they were 90s. Cuma sekarang kurang suka dengan musiknya, tapi tetap suka dengan pribadi personel, visi dan misi mereka. That’s it. Perbedaan makna outsider & “outsider”. “Outsider”, sesuai apa yang SID bilang sendiri, sebuah ide yang kebal, tanpa jumlah, tanpa kuantitas, tanpa keanggotaan, tanpa embel-embel semiotik, tanpa ciri khas, namun memiliki eksistensi & substansi yang kokoh jika ditalar lebih mendalam. Tapi kalo outsider (yg tanpa tanda kutip) cukup menyebalkan & saya rasa bukan saya saja yang merasakan itu. Tapi gue tetep salut sama SID. Dia dikontrak mayor label tapi masih bisa lawan mereka dengan kandungan lirik waktu album Black Market Love. Itu hal yang bagus, for sure. Juga lirik2 nya yang out of the box bagi band-band Indonesia. Keterampilan Jrx yg mendominasi lembaran lirik juga bisa diacungi jempol, ketika hal-hal yg biasa kita jumpai sehari2 diubah menjadi sebuah kalimat-kalimat yang mudah diingat tp sulit disusun. Cukup sekian dan saya ganteng.” ~ Bani Adam

Tulisan ini memang sengaja saya dedikasikan untuk SID, band lokal dan membanggakan kurang lebih 9 tahun menemani kehidupan saya, ya semacam orang tua ke 2 lah dan kelak nantinya bisa dibaca anak gue hahahaha… sebuah perpanjangan tangan seni sebuah pemberontakan dan sadar busana, itulah SID yang memainkan musik Punk Rock pengaruh Green Day, NOFX pada masa awalnya. Plus terkontaminasi racun rockabilly karena Social Distortion. Tetap band Punk Rock dengan image Rockabilly. Dan Saya Tampan, sekian.

*rapikan rambutmu, nak* 


Taken From : RVLSNT
13.24 | 0 komentar

Superman is Dead: Musik Indie Alami Perkembangan Pesat


Superman Is Dead
Sebagai salah satu band yang pernah berada di jalur Indie, Superman Is Dead (SID) yang personilnya terdiri atas Bobby Kool (gitaris), Eka Rock (bassis), dan Jrix (drummer), menilai bahwa perkembangan musik indie saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Hal itu ditandai dengan bermunculannya grup musik indie dimana-mana, seperti di Bali dan Jakarta. Mereka juga sangat aktif dalam berbagai event. Ditambah lagi, mereka juga didukung oleh teknologi yang lebih canggih ketimbang di masa SID, dulu. Itu terlihat dari perangkat teknologi yang digunakan oleh band-band indie sekarang ini. Sampai-sampai, di kediaman mereka pun dilengkapi dengan studio mini yang didukung oleh software bagus.
Eka Rock
“Sekarang ini banyak celahnya. Kemajuan teknologi juga sangat membantu, sehingga perkembangan musik indie semakin maju,” ujar Eka Rock, salah satu personil SID, kepada TNOL, di Denpasar, Senin 9 Januari 2012. Melalui teknologi, kata Eka lagi, mendukung band-band indie dalam menuangkan ekpresi serta menyebarluaskan produksi mereka. Dengan teknologi pula, networking mereka lebih cepat, lantaran bisa memberitahu kepada khalayak tentang karya yang mereka buat.

Masyarakat pun bisa mengetahui karya band-band indie tanpa perlu memiliki CD atau kaset, karena bisa melihatnya melalui jejaring sosial. Alhasil, mereka lebih mudah mengundang apresiasi publik terhadap karya yang mereka buat. Dari segi pemasaran, band indie bisa menyambangi label besar maupun kecil, agar bisa mendistribusikan secara menyeluruh kepada masyarakat.
Di samping itu, band indie juga memiliki kesempatan untuk muncul diberbagai media, baik televisi, radio, maupun koran dan majalah. Plus punya komunitas, sehingga mempermudah mereka dalam mengenalkan karya-karyanya. Saat berkiprah di dunia musik, SID sendiri tidak mencap diri sebagai band beraliran indie. Mereka membentuk band hanya ingin berekspresi dan berkarya. “Dulu kita tidak tahu band kita beraliran indie, kita berusaha keras membuat band hanya untuk berkarya,” ucap Eka.

Bobby Kool
Mereka mengeluarkan album perdananya yang bertajuk Case 15, pada 1997, di bawah label produksi Independent Entertaiment, yang mereka buat sendiri. Itu pun mereka buat dari perolehan dana manggung di Tabanan. Karya itu mereka pasarkan lewat jalur teman ke teman. Di album kedua, mereka sudah tidak memiliki dana lagi. Meski begitu, mereka tetap mengeluarkan album yang bertajuk Superman Is Dead itu pada 1998, dibawah bendera Rizt Clothing.
Lalu di 2002 mereka mengeluarkan album Bad, Bad, Bad, dalam format CD (mini album), yang di produksi oleh Rizt Cloth & Suicide Glam. Kemudian Bad, Bad, Bad di produksi lagi oleh Spills Record, dalam bentuk kaset. Sayang distribusinya tidak berjalan bagus. Mereka kemudian mendapat tawaran dari label berbeda untuk merilis ulang album-album mereka. Tawaran itu datang bersamaan dengan major label Sony Music Indonesia. Kala itu, SID tidak berpikir untuk masuk ke major label.

Mereka tidak pernah mengirim demo ke label tersebut. Namun rupanya, Sony telah mengikuti perjalanan SID, sehingga berniat menggandeng band asal Bali tersebut. Mereka akhirnya menerima tawaran dari major label itu, dengan catatan, tidak mengintervensi mereka dalam bermusik, membuat lirik, cover, dan video klip. Label hanya menentukan single hits SID saja.
“Perdebatan paling mendalam hanya masalah lirik. Mereka ingin lirik Indonesia, sementara kami terbiasa (lirik berbahasa) Inggris. Akhirnya diputuskan 70 persen lirik berbahasa Inggris, dan 30 persen Indonesia,” ungkap Eka. SID pun menjalani kontrak pertama dengan major label pada 2003, lewat album Kuta Rock City. Kemudian berlanjut dengan album The Hangover Decade (2004), Black Market Love (2006), dan Angels and The Outsiders (2009).

Jrx
Seiring perjalanan waktu, akhirnya mereka terbiasa dengan lirik Indonesia. Kini, lagu-lagu mereka lebih dominan berbahasa Indonesia. SID mengikat kontrak dengan major label sebanyak enam album. Mereka masih menyisakan dua album lagi, dan dalam waktu dekat segera meluncurkan album The Best Limited Edition dalam bentuk piringan hitam. Itu adalah album yang berisikan delapan lagu, yang diambil dari album pertama sampai album terakhir.
“Semoga Februari nanti bisa release,” harap Eka.
Dalam kesempatan ini, SID berpesan, agar band indie yang ingin tembus major label atau “dilirik” label besar, harus berkarya dengan karakter tersendiri dan tidak terbawa arus.


Sumber : TNOL

09.49 | 0 komentar

SID Sebut Fans Sebagai 'Perpanjangan Lidah'

Sebagai sebuah band, Superman is Dead (SID) memiliki penggemar tersendiri. Bahkan, penggemar mereka tidak hanya sebatas di daerah asalnya, Bali. Namun, tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Fans mereka biasa dipanggil 'Outsiders' bagi penggemar pria, dan 'Lady Rose' untuk fans perempuan.
Nah, band berisikan Bobby Kool, Eka Rock dan Jerinx ini menganggap mereka sebagai penyemangat dan 'perpanjangan lidah'.


"Kalau Presiden penyambung lidah rakyat, fans SID adalah perpanjangan lidah kita," ujar salah satu personil SID, Eka Rock kepada TNOL di Denpasar. Dengan begitu, kata Eka, fans membuktikan sebuah band ada. Sebuah band pun harus bertanggung jawab terhadap apa yang dinyanyikan serta dilakukan.

Band harus memberi contoh baik kepada para fansnya. SID pun membuat kegiatan-kegiatan bermanfaat bagi lingkungan sekitar dengan mengikutsertakan fansnya. Mereka melakukan aksi bersih-bersih pantai di Pulau Dewata sebulan sekali.
Tak hanya fans di daerah tersebut yang menjalankannya. Fans dari tempat lain juga mengikuti jejak mereka. Mereka membersihkan lingkungan dari sampah plastik. Agenda pembersihan tergantung dari wilayah masing-masing.
"Daerah lain punya agenda tersendiri, selain itu mereka sering ke panti-panti asuhan," terang Eka. Disamping peduli terhadap lingkungan, SID juga selalu mengumandangkan 'save orang utan' dan pluralisme.

Dalam waktu dekat mereka akan menggelar konser di Bogor. Menurut Eka, konser ini merupakan 'hutang' mereka yang belum terbayar.
"Tanggal 21 Januari mendatang kita akan konser, ini 'hutang' konser kita," ucap Eka. Berdasarkan rencana, mereka akan menyanyikan lagu dari album pertama hingga terakhir. Mereka akan tampil sekitar satu sampai dua jam.
09.28 | 0 komentar
Jika terdapat link free download di blog ini hanya semata review CD Album /hasil karya mereka dan bukan pembajakan.karena saya pribadi tidak memungut biaya kepada siapapun untuk blog ini. Dan untuk teman-teman yang mengunjungi blog ini, support musisi lokal kita dengan cara membeli merchandise, CD/Album original mereka :)


Kalian punya band yang terbentuk dari komunitas outSIDer? dan ingin saya posting di blog ini? kirimkan biografi dan demo lagu (jika ada)kamu ke email fakhruoutsider@gmail.com

Support our local talent!

Cheers!!

Blog Archives

Cari Blog Ini

Statistik

Google+ Followers