Superman is Dead: Musik Indie Alami Perkembangan Pesat


Superman Is Dead
Sebagai salah satu band yang pernah berada di jalur Indie, Superman Is Dead (SID) yang personilnya terdiri atas Bobby Kool (gitaris), Eka Rock (bassis), dan Jrix (drummer), menilai bahwa perkembangan musik indie saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Hal itu ditandai dengan bermunculannya grup musik indie dimana-mana, seperti di Bali dan Jakarta. Mereka juga sangat aktif dalam berbagai event. Ditambah lagi, mereka juga didukung oleh teknologi yang lebih canggih ketimbang di masa SID, dulu. Itu terlihat dari perangkat teknologi yang digunakan oleh band-band indie sekarang ini. Sampai-sampai, di kediaman mereka pun dilengkapi dengan studio mini yang didukung oleh software bagus.
Eka Rock
“Sekarang ini banyak celahnya. Kemajuan teknologi juga sangat membantu, sehingga perkembangan musik indie semakin maju,” ujar Eka Rock, salah satu personil SID, kepada TNOL, di Denpasar, Senin 9 Januari 2012. Melalui teknologi, kata Eka lagi, mendukung band-band indie dalam menuangkan ekpresi serta menyebarluaskan produksi mereka. Dengan teknologi pula, networking mereka lebih cepat, lantaran bisa memberitahu kepada khalayak tentang karya yang mereka buat.

Masyarakat pun bisa mengetahui karya band-band indie tanpa perlu memiliki CD atau kaset, karena bisa melihatnya melalui jejaring sosial. Alhasil, mereka lebih mudah mengundang apresiasi publik terhadap karya yang mereka buat. Dari segi pemasaran, band indie bisa menyambangi label besar maupun kecil, agar bisa mendistribusikan secara menyeluruh kepada masyarakat.
Di samping itu, band indie juga memiliki kesempatan untuk muncul diberbagai media, baik televisi, radio, maupun koran dan majalah. Plus punya komunitas, sehingga mempermudah mereka dalam mengenalkan karya-karyanya. Saat berkiprah di dunia musik, SID sendiri tidak mencap diri sebagai band beraliran indie. Mereka membentuk band hanya ingin berekspresi dan berkarya. “Dulu kita tidak tahu band kita beraliran indie, kita berusaha keras membuat band hanya untuk berkarya,” ucap Eka.

Bobby Kool
Mereka mengeluarkan album perdananya yang bertajuk Case 15, pada 1997, di bawah label produksi Independent Entertaiment, yang mereka buat sendiri. Itu pun mereka buat dari perolehan dana manggung di Tabanan. Karya itu mereka pasarkan lewat jalur teman ke teman. Di album kedua, mereka sudah tidak memiliki dana lagi. Meski begitu, mereka tetap mengeluarkan album yang bertajuk Superman Is Dead itu pada 1998, dibawah bendera Rizt Clothing.
Lalu di 2002 mereka mengeluarkan album Bad, Bad, Bad, dalam format CD (mini album), yang di produksi oleh Rizt Cloth & Suicide Glam. Kemudian Bad, Bad, Bad di produksi lagi oleh Spills Record, dalam bentuk kaset. Sayang distribusinya tidak berjalan bagus. Mereka kemudian mendapat tawaran dari label berbeda untuk merilis ulang album-album mereka. Tawaran itu datang bersamaan dengan major label Sony Music Indonesia. Kala itu, SID tidak berpikir untuk masuk ke major label.

Mereka tidak pernah mengirim demo ke label tersebut. Namun rupanya, Sony telah mengikuti perjalanan SID, sehingga berniat menggandeng band asal Bali tersebut. Mereka akhirnya menerima tawaran dari major label itu, dengan catatan, tidak mengintervensi mereka dalam bermusik, membuat lirik, cover, dan video klip. Label hanya menentukan single hits SID saja.
“Perdebatan paling mendalam hanya masalah lirik. Mereka ingin lirik Indonesia, sementara kami terbiasa (lirik berbahasa) Inggris. Akhirnya diputuskan 70 persen lirik berbahasa Inggris, dan 30 persen Indonesia,” ungkap Eka. SID pun menjalani kontrak pertama dengan major label pada 2003, lewat album Kuta Rock City. Kemudian berlanjut dengan album The Hangover Decade (2004), Black Market Love (2006), dan Angels and The Outsiders (2009).

Jrx
Seiring perjalanan waktu, akhirnya mereka terbiasa dengan lirik Indonesia. Kini, lagu-lagu mereka lebih dominan berbahasa Indonesia. SID mengikat kontrak dengan major label sebanyak enam album. Mereka masih menyisakan dua album lagi, dan dalam waktu dekat segera meluncurkan album The Best Limited Edition dalam bentuk piringan hitam. Itu adalah album yang berisikan delapan lagu, yang diambil dari album pertama sampai album terakhir.
“Semoga Februari nanti bisa release,” harap Eka.
Dalam kesempatan ini, SID berpesan, agar band indie yang ingin tembus major label atau “dilirik” label besar, harus berkarya dengan karakter tersendiri dan tidak terbawa arus.


Sumber : TNOL

Komentar