Pemutaran DVD Dokumenter Superman Is Dead: USA Tour & Aussie Tour



Pada umumnya seni musik, selalu identik dengan gelaran panggung yang dilengkapi tatanan soundsystem. Namun tidak selamanya cara untuk menikmati musik adalah dengan mendatangi konser maupun gigs dari grup musik/band yang diinginkan. Ada kalanya seni media rekam juga dapat mengambil peranan untuk dapat menikmati musik tersebut. Kali ini, Tourism Movie bekerjasama dengan Outsiders Bandung, menyelenggarakan pemutaran film dokumenter International Tour sebuah band asal Bali, yakni Superman Is Dead (SID).

Perjalanan tour oleh SID dalam menggelar konser di beberapa negara tetangga, yakni Australia (2007) dan Amerika Serikat (2009), telah membuktikan bahwa musik Indonesia memiliki tempat di pasar internasional. Di bulan Oktober 2007, SID berhasil menggelar konser di 8 kota – 16 gigs selama 33 hari di Australia. Dan pada bulan Juni – Juli 2009 di Amerika Serikat, band ini sukses menjalani tur di 16 kota – 16 gigs, dengan representasi 11 gigs bertema “Vans Warped Tour”, dan 5 gigs lainnya bertema “From Bali With Rock”. Band yang mengusung genre punk rock dengan rockabilly attitude ini berdiri sejak tahun 1995 dan terus menunjukkan kiprahnya dalam kancah musik nasional hingga internasional, dengan sebaran penggemar di seluruh kota di Indonesia, bahkan negara-negara lain di dunia.

Outsiders Bandung adalah salah satu fanbase dari grup band SID yang diresmikan pada tanggal 20 Oktober 2008. Selain mengagumi sosok band SID, dan tak pernah absen dari gelaran konsernya di Kota Bandung dan sekitarnya, kegiatan lain dari Outsiders Bandung adalah saling berbagi info dan koleksi musik, membuat gelaran gigs secara swadaya hingga mengadakan acara bakti sosial. Outsiders Bandung yang bermarkaskan di Margahayu Raya ini, juga sering mengadakan weekly gathering, yakni setiap hari Sabtu malam, bertempat di Taman Cikapayang – Dago.

Nama acara:
Pemutaran DVD Dokumenter Superman Is Dead: USA Tour & Aussie Tour

Hari/tanggal:
Jumat/16 November 2012

Tempat:
Kongkow Cafe Bandung

Waktu:
17.00-selesai

Tiket:
Gratis


Taken from : GigsPlay
23.28 | 0 komentar

Djarum Super Rock Concert Tour 2012


Akhirnya setelah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, acara tour SID di DIY & Jateng seperti tahun kemarin 2011.

Kali ini Djarum Super Rock Concert Tour 2012 mungkin angkan lebih rame karena ada band-band hebat di bawah ini :

Guest Star :
*Superman Is Dead
*Endank soekamti
*Saint Loco

Hari /tanggal :
Selasa, 16 Oktober 2012 at Stadion Kridosono, YK
Rabu, 17 Oktober 2012 at Stadion Diponegor, Semarang
Kamis, 18 Oktober 2012 at Alun-alun Utara , Solo
Jum'at, 19 Oktober 2012 at Pantai Kartini, Jepara

HTM : 15k
Time : 19.00 - DEAD.


13.52 | 2 komentar

Devildice ::: Setengah Jiwa Ada di Yogya


PEKAN lalu Devildice band asal Bali, selama dua kali berturut-turut, Minggu (7/10) lalu mereka berlaga di JEC, pada gelaran Kustomfest. Sehari setelahnya band yang dikomandoi Jerinx (JRX) yang juga merupakan drummer Superman Is Dead ini menggelar Private Show di Oxen Free, Jln Sosrowijayan. Band yang memainkan Punk Rock ini sebenarnya sudah berdiri sejak 1997 di Kuta, Bali.

Devildice yang dibentuk oleh JRX (gitar/vokal) dan Kuzz (bass) ini awalnya bernama Culture On Fire. Mereka sepakat untuk menjadi band cover version yang melantunkan tembang-tembang milik Social Distortion, band rock n roll punk idola mereka. Setelah dibantu oleh beberapa kawan yang mengisi posisi drum dan gitar, Culture On Fire semakin rajin meramaikan acara-acara musik yang bersifat underground di Bali.

Kesibukan JRX yang juga drummer dan penulis lagu untuk Superman Is Dead (SID) membuat Culture On Fire semakin terproyeksi menjadi band yang bisa dikatakan 'agak kurang serius' dalam berkarir, dan mereka nyaman dengan status band cover version.

Tahun 2002, Jerinx menyadari ia punya banyak stok lagu yang tidak masuk dalam karakter SID namun bisa ia masukkan ke dalam karakter Culture On Fire yang lebih moody. Musisi bernama asli Ary Astina ini pun memutuskan untuk lebih serius lagi menjalani proyek band keduanya ini. Culture On Fire pun mengalami bongkar pasang personel, hingga melakukan perubahan nama menjadi Devildice yang diperkuat oleh JRX, Kuzz, Cash (gitar), T.R (drum) dan Mr.F (trumpet)


Tahun 2004, JRX dan kawan-kawan akhirnya merilis mini album perdana Devildice bertitel 'In The Arms Of The Angels'. album ini diproduksi dengan biaya dan label sendiri. Hingga kini Devildice telah bermain di ratusan festival musik, baik acara amal, skate, surf, tattoos dan motor di stadion, pantai, lapangan, bar/club.

Selain bermusik, Devildice juga terlibat dalam beberapa proyek kampanye lingkungan, album kompilasi, skate video, surf video dan lain lain. Dalam berkesenian, Devildice banyak dipengaruhi film-film gangster jaman dulu, kustom kulture dan eksotisme khas punk tropikal. Album selanjutnya ‘Army Of The Black Rose’  bermaterikan 12 track dan dirilis oleh Sony Music. Album ini berkisah tentang banyak hal, mulai kehidupan dunia, kekasih, harapan, psikologis, masa lalu dan kesenangan terangkum dalam album yang semuanya dinyanyikan dengan bahasa Inggris ini.

Berikut beberapa cerita dan pesan dibalik lagu-lagu Devildice, menurut JRX lagu ‘Army Of The Black Rose’ yang dijadikan judul album ini bercerita tentang dunia dari kacamata kaum nihilis. Dimana mereka merasa dunia ini haus darah, rakus dan kebenaran hanyalah manipulasi teori kebencian. “Mereka kesepian, sangat kesepian,” ulasnya.

Track selanjutnya ‘Land Of No Angels’ merupakan anthem harapan untuk remaja-remaja broken home agar selalu ingat bahwa cinta itu ada dimana saja, belajar melupakan dan memaafkan adalah krusial. Lagu ‘Diamonds Are Forever’ merupakan lagu pop yang paling banyak diminati para penggemarnya, lagu yang dibantu oleh Sari Nymphea pada vokal, Leo dan Kape Suicidal Sinatra pada gitar/kontra bass ini terinsprasi oleh duet Johnny Cash-June Carter. lagu ini tentang tak bertemunya dua perasaan yang abadi. “Why? Simply coz hidup memang tak pernah sempurna,” tukas JRX.


Kemudian ‘Rock & Roll City’ yang kerap dijadikan penutup di setiap pertunjukan Devildice merupakan satu-satunya lagu riang yang JRX tulis untuk Devildice. lagu ini ditulis tahun 2004 di Hotel Paragon, Jakarta. Menurutnya lagu ini mengingatkannya akan malam-malam panas, penuh kejutan dan seringkali menjadi rahasia. “Malam-malam” itulah pencipta lagu ini sesungguhnya. Saya hanya menikmatinya. Dari ‘belakang’,” ujar JRX.

Setengah Jiwa Ada di Yogya

Di sela-sela santai, Jerinx bercerita perihal Yogyakarta, isu kekinian, dan band yang membersarkan namanya. Berikut petikannya:

TR: Apa momen terbaikmu selama menginjak kota Yogyakarta ini?
JRX: ‘Always love Jogja no matter what’, karakter dan vibe kota ini sungguh hangat dan membumi. Saya merasa setengah jiwa saya ada di Yogya, entah kenapa.

TR: Apa komentarmu tentang skena musik Yogyakarta.
JRX: Bagus adalah jawaban yang tipikal, maka saya akan jawab 'sangat sehat'. Bukan tentang seberapa banyak band Yogya yang sukses secara nasional, tapi lebih tentang beragam dan eklektik nya skena musik di Yogya, juga semangat saling support sesama musisi di Yogya sangat patut dicontoh oleh kota-kota lain.

TR: Baru-baru ini  di Walikota Yogyakarta membuat keputusan yang dianggap masyarakat sebagai pengebirian semangat bersepeda, sebagai musisi yang sering menyuarakan kampanye bersepeda, apa komentarmu tentang ini?
JRX: Saya harap pak Walikota mengambil keputusan itu bukan karena iming-iming tender pengadaan proyek, tapi berdasar atas kepentingan yang lebih besar, dengan solusi yang lebih baik untuk alam dan nilai-nilai kearifan lokal juga, tentunya.

TR: Soal isu nasional, seberapa penting sih peran musisi dalam pemberantasan korupsi, bagaimana langkah terbaik sebagai aksi nyata?
JRX: Jika dilakukan secara konstan dan bersama-sama, saya optimis musisi dan musik bisa membantu mereduksi budaya korupsi hingga ke titik minim atau bahkal nol. Tapi ya itu tadi, harus konstan, bersama-sama, dan yang paling penting, kita juga jangan sampai ikut menjadi pelaku. Untuk long-term goal, aksi nyata seperti turun ke jalan dan mengedukasi fanbase untuk memusuhi korupsi itu signifikan efek nya.

TR: Ibarat anak, apa sih diferensiasi Superman Is Dead dan Devildice?
JRX: SID itu anak pertama yang sudah sangat mandiri, punya pekerjaan yang cukup terhormat dan dibanggakan oleh orangtua nya. Devildice ibarat anak paling kecil yang masih suka bertualang, pas-pas an, tapi bahagia karena tidak harus bangun pagi (tersenyum).

******
Wawancara dengan Kuzz

Sosok JRX sebagai personel dari Superman Is Dead mungkin sudah banyak dikenal dan ditulis di media-media besar, namun di Devildice sosok yang tidak kalah penting dengan JRX adalah Kuzz.
Lewat obrolan santai, pencabik bass Devildice ini bercerita tentang Otomotif, Yogyakarta, dan Superman Is Dead.

TR: Ceritakan dong tentang mobil kustom yg kamu koleksi?
Kuzz: saya punya playmouth 1948, Ford tahun 1932 pick up mesin v8 ,dan motor Harley 1994.

TR: Sepanjang manggung bersama Devildice, acara apa yang menurutmu paling oke?
Kuzz: Acara Jogja Kustomfest 2012 kemarin, karena main di acara motor custom dan hotroad. Berhubung saya pecinta motor dan mobil tua, jadi bisa sharing dan berkumpul dengan kalangan sesama pecinta Kustom seluruh Indonesia, sekalian membeli beberapa Part yang saya butuhkan untuk Kustom mobil tua saya.

TR: Kalau manggung paling oke dimana, bagaimana ceritanya?
Kuzz: Waktu Devildice main di acara tattoo di Yogya juga, tepatnya di Liquid  tahun 2008. Panitianya relay jemput, tapi acaranya semuanya jumping, and pogo, banyak Berandal dari seluruh Indonesia.

TR: Kalau begitu berikan komentarmu tentang kota Yogyakarta, apa yg paling kamu sukai?
Kuzz: Yogya adalah kota budaya dan istimewa. Orangnya masih ramah dan sopan, namun bangunan minimalis sekarang semakin banyak, mengalahkan bangunan tua yang sarat dengan history bangsa Indonesia.
                                                       
TR:  Berikan komentarmu tentang Superman Is Dead
Kuzz: ‘Superman Is Dead is a good band’ yang pernah merangkak dari bawah ke atas. Kita datang dari rumah yang sama, namun dengan gaya dan latar yang berbeda. Saya sama Jerinx lebih ke Americano Style. Mungkin dari daerah pariwisata yang banyak bergaul sama masyarakat internasional, wawasan, pemikiran dan style lebih terbuka.

FYI: Tulisan ini dimuat di Koran Tribun Jogja, edisi Minggu, (14/10/2012)

This Article taken from : Tribun Rockers & Tribun Jogja
07.15 | 0 komentar

Out Now! -OUTSIDERS BANDUNG COMPILATION-


Proudly Present!
Outsider Bandung Compilations "PSYCHO FAKE".
"Knock Out" atwork by : Rian Hamdani @memoRIANs

12 Bands 12 Songs!

01. Syndrome Mafia
02. Billy and Cash Revenge
03. Joker Hangover
04. Sophie is Bandits
05. Sally Is Stupid
06. Rebel in Saint (Malang)
07. Djongjone
08. Scaremonger
09. Rain in Summer
10. Warrior Punch
11. The Eastiger
12. Hari Generasi

From Outsider, By Outsider, To Outsider!
Cheers!
19.02 | 0 komentar

No Man's Land - The Best Of 1994-2012



Indonesia is a country with a fast growing punk and skinhead scene. The longest running
Indonesian Oi! band is No Man’s Land. Founded in 1994 they are one of the pioneers in the
skinhead scene on Indonesia.
No Man's was founded by three friends in Malang, second largest city in East-Java: Fery, Didik
and Didit. All three of them pretty much liked the same music: no pop music, but underground punk
and Oi!. After finishing school the three friends formed No Man's Land in 1994. They took this
name from a war movie they all have seen.
When the band was founded the music was a sort of upbeat sing-a-long punkrock. After Didit
introduced them to Oi!-bands such as The Last Resort, The Oppressed and The Strike they
changed musical direction.
The first recordings were made on a very basic, simple equipment, but the band wasn't satisfied
with the result. Soon after the band re-recorded the songs which became their first demo. In 1996,
just before making new recordings, Catur joined the band on second guitar. During the following
year No Man's Land continued recording and started to create fan base throughout Asia.
In 1997, a label from Malaysia offered to release a split cassette a Malaysian punk band called
Karatz. In 1998 the band recorded a new album in a more professional studio than they used to do.
The full-length cassette 'Grow Away From The Society' was recorded during a live session. On this
new album they had a faster and more aggressive sound and more intense lyrics which had a lot to
do with the social and racial unrest at the time. One year later after No Man’s Land recorded
another album called 'All Together Now'. During that time the scene in Malang was growing bigger
and bigger and the band had gigs almost every weekend. Due to work commitments the band wasn't
able to play any abroad gigs.
In 2001 the band became quiet for a while. Most members got married and Didit got work out of
town. Times changed, the scene seemed to slow down and No Man’s Land were only playing once a
month. In 2005 Didit changed job and had more time for practising and live gigs. Now the band
became more active again they felt they had improved. The band earned the status of veterans in the
scene by now. The band recorded a song for the 'Anti Disco League' compilation released by The
Templars (New York Oi!-band) with a.o. Deadline and Crashed Out. After some delay No Man’s
Land’s released a new full-length called 'Scattered Around And Buried'. It became the band's first
release in Europe.
In early 2012 the band re-recorded 28 of their favourite tracks for the CD 'The Best Of 1994-2012'.
After recording in Indonesia the recordings were mixed and mastered in Europe. On this release No
Man’s Land has kept true to their roots, both lyrically and musically. No fuss, no mess, just pure
Indonesian Oi!


you can download nomansland_promokit at here -> download



No Man's Land - The Best Of 1994-2012

Tracklist
1. Healthy Man
2. A Man Against the World
3. Perfect Day
4. America
5. Rife With Rimors
6. Better Life
7. No Aim
8. Reputation
9. No Way Out
10. Bring Out
11. Proud With Our Life
12. Voice of Youth
13. May 98
14. Take pride
15. Farewell Nico
16. Here's the Boys
17. Depot 97
18. You and Me
19. Too Young to Fight
20. Brando's Future
21. Seven PM
22. Come and Go
23. Brother Wake Up!
24. Politics in Our Football
25. Two Faces
26. Oi! Oi! Music!
27. Good Night
28. The Way We Feel



nomanslandoi.com

08.44 | 0 komentar
Jika terdapat link free download di blog ini hanya semata review CD Album /hasil karya mereka dan bukan pembajakan.karena saya pribadi tidak memungut biaya kepada siapapun untuk blog ini. Dan untuk teman-teman yang mengunjungi blog ini, support musisi lokal kita dengan cara membeli merchandise, CD/Album original mereka :)


Kalian punya band yang terbentuk dari komunitas outSIDer? dan ingin saya posting di blog ini? kirimkan biografi dan demo lagu (jika ada)kamu ke email fakhruoutsider@gmail.com

Support our local talent!

Cheers!!

Blog Archives

Cari Blog Ini

Statistik

Google+ Followers