SID: Industri Musik Indonesia (Seakan) Seragam

(Penulis : Rastiaka Atha Hestaviyasa)

Superman Is Dead



Rasanya 17 tahun bukan waktu yang sedikit untuk sebuah band bisa mempertahankan ciri khas mereka. Begitu pula dengan Superman Is Dead, band asal Pulau Dewata ini telah berhasil menelurkan sebanyak 7 album. Nggak hanya itu, setiap tahunnya, mereka selalu berusaha memuaskan para Outsiders dengan berbagai karya yang beragam.

Biar pun begitu, trio Bobby Kool (vokal/gitar), Eka Rock (bass) dan JRX (drum) nyatanya nggak lantas asik mengutak-atik karya mereka sendirian. Perhatian mereka terhadap industri musik Indonesia pun terus digencarkan, bahkan hingga detik ini. Bicara tentang industri musik lokal, SID punya pandangan tersendiri mengenai fenomena yang terjadi sekarang.

Mereka sama sekali nggak merasakan adanya variasi atau warna yang menonjol dari ribuan materi baru yang keluar. Keadaan ini punya andil dalam membentuk sebuah keseragaman, yang malah membuat jalannya musik lokal menjadi monoton dan nggak menarik. Sebagai salah satu bagian dari komponen tersebut SID juga butuh sebuah suguhan yang berbeda.

“Industri musik Indonesia memang terus berjalan hanya saja ada sebuah keseragaman yang terjadi di dalamnya. Materi yang keluar cenderung sama dan nggak memberikan sesuatu yang besar dalam mewarnai musik lokal. Jujur saja bagi kami yang membawakan musik non mainstream cukup jengah melihatnya. Bukan keadaan ini yang menjadi tujuan kami bermusik,” papar Eka cepat.

“Tetapi bagusnya belakangan penikmat musiknya juga lebih kritis untuk memilih musik mana yang mau didengarkan. Beberapa acara musik non mainstream juga mulai bermunculan, semoga cepat membaik saja sih harapannya,” tambahnya lagi. Well, mau tahu cerita panjangnya? Cek HAI edisi ke-13 minggu ini. Go grab it!


Taken from : HAI-Online
23.28 | 0 komentar

Waiting For Dead


VOCAL : Adwin Baraji Nugraha
GUITAR 1/VOCAL : Enald Melodic
GUITAR 2 : Wahyu Gothink
BASSIST : Andea 
DRUMMER : Andry Gitara

Tidak ada yang terlalu istimewa dari mereka, sekelompok orang yang mencoba kreativitasnya dijalur punk rock.
Terbentuk dikota yang sangat istimewa yaitu kota 'dawet ayu' Banjarnegara pada Desember 2008.
Bermimpi menjadi band punk papan atas bukan tujuan utama mereka, tetapi mereka bermimpi bagaimana bisa memajukan musik punk rock.
Tetap bertahan dijalur ini dari pertama terbentuk sampai nanti mereka tua dan akhirnya mati.


Facebook : WAITING FOR DEAD
Reverbnation : WAITING FOR DEAD

Ini salah satu lirik lagu mereka. Check this out!

Waiting For Dead - We Stand Alone

And now we got the better life for us
We will show that we are not the junk
Learn work be creative to be worth heartly
Never give up to keep move along

Coz we belive we have the dream and it will be come true together
And we belive nobody perfect in this world, we are human being

We stand alone work together
Never give up to fighting this world
We stand alone realize the dream
To change the darkness into the light


Bagi yang ingin mengunduh lagu mereka diatas klik->   disini

22.24 | 0 komentar

Soal Lagu "Porno", Ini Kata Superman Is Dead

by : Feddy Fedora

Superman Is Dead (Foto: Maria Cicilia Galuh/okezone) 
JAKARTA - Menurut pemain bass Superman Is Dead (SID) Eka Rock seniman harus bebas bersekpresi. Pendapatnya ini berkaitan dengan yang belakangan ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang sedang melakukan peneguran beberapa artis dangdut karena lirik lagunya dianggap "porno".

Sebagai band pengusung musik bergenre punk rock, Eka menyatakan bahwa seniman tidak perlu untuk takut dalam berkarya.

"Untuk apa kita berkesenian ada ketakutan? kalo itu yakin kenapa harus takut, lakuin aja," ucapnya ketika ditemui di Cilandak Town Squre, Jakarta Selatan, awal bulan februari 2012.

Menurut Eka setiap orang mempunyai cara dalam mengekspresikan diri dalam berkesenian, dan seniman sangat sah untuk melakukan hal yang ingin dilakukan.

"Itu cara berekpresi orang itu sendiri, agar terlihat beda dan tidak sama, sebenernya itu sah-sah saja tergantung masyarakat menerimanya seperti apa," tutupnya.

Ada sepuluh judul lagu yang dianggap Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Nusa Tenggara Barat (NTB) bermasalah, yakni Jupe Paling Suka "69" (Julia Perez), Mobil Bergoyang (Lia MJ feat Asep Rumpi), Apa Aja Boleh (Della Puspita), Hamil Duluan (Tuty Wibowo), Maaf Kamu Hamil Duluan (Ageng Kiwi), Satu Jam Saja (Saskia), Mucikari Cinta (Rimba Mustika), Melanggar Hukum (Mozza Kirana), Wanita Lubang Buaya (Minawati Dewi) dan Ada Yang Panjang (Rya Sakila).



Taken from : OkeZone.com
21.05 | 0 komentar

JRX : The Nyepi Interview

Jrx

1. Arti Nyepi buat JRX?

Bagi saya, Nyepi adalah ketika alam (di Bali) diberi kesempatan untuk bernafas bebas, Nyepi adalah satu hari dimana alam bisa lepas dari beban yang dihasilkan oleh ritual keseharian manusia.

2. Apa saja ritual yang selalu dilakukan pada saat Nyepi? Siapa saja yang harus atau boleh melakukannya? Selain nggak boleh menyalakan lampu dan beraktivitas, apa lagi sih yang nggak boleh dilakukan saat Nyepi?

Tergantung. Bagi yang ingin melakukan meditasi/puasa selama Nyepi, tentu saja ritual yang dipersiapkan beda dengan mereka yang ingin bersantai saja selama Nyepi. Dan tidak ada peraturan kalau semua orang di Bali harus melakukan penyepian secara spiritual (meditasi/puasa). Bebas saja, selama tidak keluar rumah (kecuali dalam situasi sakit/melahirkan dll) dan tidak membuat suara bising atau meng-ekspose cahaya/lampu/api secara berlebihan. Perlu saya tambahkan, di Bali walau hampir 100% menerapkan peraturan 'dilarang keluar rumah' saat Nyepi, ada juga desa yang memperbolehkan warga nya untuk keluar rumah, bahkan di beberapa desa ada semacam tradisi 'pesta jalanan' di siang-sore hari nya disaat Nyepi berlangsung.

3. Pengalaman apa yang paling menyenangkan selama melakukan perayaan Nyepi selama hidup Mas?

Mungkin tidak begitu menyenangkan saat itu terjadi tapi it sounds fun now. Jadi sekitar awal tahun 2000 saya dan beberapa teman memutuskan untuk menyepi di sebuah villa tua dan terpencil di Ubud. Dan for some reason, kita memutuskan untuk (hanya) membawa film-film horror untuk ditonton. Saat tiba di villa, suasana sudah mulai aneh. Pelan-pelan terkuak cerita-cerita seperti tentang kolam renang di depan villa yang pernah memakan korban jiwa, cerita tentang bagaimana seorang tamu pernah melihat kepala-kepala keluar dari tembok villa dan -yang paling seru- cerita tentang adanya kuburan tepat disebelah villa yang kita tempati. Saat itu film horor fenomenal 'The Blair Witch Project' baru keluar. Dan karena sifat sok pemberani yang berlebihan, kita memutuskan untuk menontonnya ketika hari menjelang malam. Dan bisa ditebak kejadian selanjutnya: film (yang ternyata) maha ngeri itu akhirnya sukses membuat kita (berempat) ketakutan luar biasa. Dan alam disekitar kita bereaksi terhadap energi rasa takut yang kita dirasakan. Teror pun dimulai, sepanjang malam hingga pagi datang, tak seorang pun dari kita bisa tidur karena suara-suara dan hal-hal aneh mulai bermunculan disekitar villa. It was a real horror time. Pada intinya: nyepi + villa tua + dvd horror = not a good mix.


4. Masih ingat nggak pengalaman pertama melakukan Nyepi? Boleh ceritakan sedikit?

Wah, terus terang saya lupa Nyepi pertama saya. Tapi yang jelas, saat saya masih kecil, Nyepi selalu terlihat sakral, meriah dan penuh misteri. Ada perang petasan dan pesta ogoh-ogoh (semacam patung besar yang diarak beramai-ramai) di malam sebelum Nyepi, para pecalang (patroli keamanan tradisional Bali) yang terlihat angker & galak, dan makanan rumah yang dimasak spesial dikala Nyepi. Sekarang -mungkin karena pengaruh usia- saya tidak merasakan energi yang sama saat Nyepi. Saya lebih concern dengan konsep bahwa Nyepi bukan tentang manusia, tapi tentang alam dan bagaimana manusia menghormati alam. Tentang memberi alam kesempatan untuk bernafas lega.

5. Mas kan orangnya ekpresif dan energetik. Apakah ada kesulitan waktu Nyepi? Misalnya sulit menahan untuk tidak keluar atau pun beraktivitas.

Tidak. Kan ada banyak hal yang bisa saya lakukan di rumah :)

6. Setelah Nyepi, biasanya melakukan apa sih?

Di Bali, sehari setelah Nyepi namanya Manis Nyepi dan hari itu biasanya semua masih libur. Orang-orang merayakannya dengan jalan-jalan bersama keluarga, piknik, ke mall, ke pantai dan semacam nya. Saya mengisi Manis Nyepi dengan hal-hal normal yang saya lakukan setiap hari nya.

7. Seperti apa sih Bali saat Nyepi dan apa yang Mas sukai dari Bali saat Nyepi?

Hal yang tidak pernah saya lewatkan saat Nyepi adalah mencoba mendengar apa yang semesta katakan pada manusia. Mendengarkan bagaimana semesta bernafas adalah sebuah keindahan tersendiri. Dan menurut saya pribadi, jika ritual Nyepi bisa dilakukan di seluruh dunia serentak dan rutin selama -misalnya- sebulan sekali, kita akan bisa menyelamatkan banyak hal yang tidak kita pikirkan sebelumnya.


Taken from : Jrx Note
00.08 | 0 komentar

Grunge Indonesia Still Alive


Mengawali sebuah tulisan adalah ternyata lebih sulit dibandingkan dengan mengakhirinya. Mungkin karena budaya menulis bagi masyarakat kita yang (tetap) belum populer. Masyarakat yang begitu terlena dengan berbagai kemudahan akses informasi dan teknologi yang begitu deras atau malah ternyata karena masyarakat kita yang terlalu capek menderita,too depressed, apatis, sehingga ia sepertinya terlalu capek atau dengan eufimisme yang lebih stylish—terlalu sibuk—untuk hanya mengeluarkan pendapat, ide, gagasan, dan pengalaman melalui bentuk tulisan. Menyebarkan propaganda dan agitasinya untuk memberitakan dan menyebar kalimat pemberontakan atau perlawanan (saya lebih suka menyebut perlawanan saja) atas kesewenangan sementara perlawanan secara fisik tak bisa dilakukan, tak mampu, atau takut,maka cara paling ideal, paling aman (setidaknya sampai hari ini), paling ekonomis adalah salah satunya melalui tulisan,apakah itu sebuah puisi, artikel, cerpen, essay, atau pun hanya melalui sebuah tulisan lirik sederhana di sebuah musik sederhana dari musisi yang sederhana.

Kali ini saya akan memposting sebuah karya Buku "GRUNGEINDONESIA STILL ALIVE"  sebuah buku yang menurut saya menarik untuk kalian baca.

Judul Buku   : GRUNGE INDONESIA STILL ALIVE; Catatan Seorang Pecundang
Words         : YY (Klepto Opera/Ballerina's Killer)
Cover          : Stolen from gig "D.I.Y. Grunge Still Alive"'s Pamflet
Publisher     : 






Bagi yang ingin membaca silakan ambil file dokumennya disini -> Ambil
10.45 | 0 komentar

Hero Was Die

Hero Was Die - Sebuah band yang membawakan genre Punk Rockabilly. Mereka berasal dari salah satu kota di jawa Tengah yaitu Semarang. Mereka beranggotakan 3 orang remaja yaitu Dicky Whisky (Vocal and Guitar) , Rial (Backing Vocal and Bassist), Flamingo (Drummer and Song Writer).


Sejak mereka berdiri pada tanggal 10 Agustus 2007 mereka sering dianggap penerus grup band asal Bali tersebut yaitu Superman Is Dead. Karena pada awal mereka terbentuk mereka sering membawakan lagu dari Superman Is Dead. Mulai awal tahun 2008 akhirnya mereka berhasil membawakan lagu mereka sendiri yang berisi isi hati ketiga remaja tersebut.

Sampai sekarang lagu yang sudah mereka record sudah 7 lagu yang mereka record dalam keadaan suara yang seadaannya :) . Antara lain hits mereka Bangkit Bersama, Menuju Sahabat, Hero Was Die, dll.

Hero Was Die


Kalau kalian berminat ingin mengundang mereka, kalian bisa menghubungi manager mereka.

Nama : FAKHRU
HP : +6285 351008723
Email : herowasdie@gmail.com

Atau kalian bisa lihat di sosial media mereka :

Facebook : Hero Was Die
Twitter : @HeroWasDie





ComScore
21.23 | 0 komentar

“ Hero Was Die “ Demak Menggebrak Blantika Musik Punk Rockabilly


Personil Hero Was Die
Warta Demak - Bagi penggemar musik Punk tentu tidak akan asing lagi dengan “ Hero Was Die “ , yaitu salah satu grup music yang beranggotakan kawula muda kota Wali. Grup music yang berdiri 10 Agustus 2007 yang lalu telah melanglang  buana ke berbagai kota di pulau Jawa . Selain Jakarta , kota –kota kecil lain di pulau  Jawa pernah disinggahi untuk pentas menemui penggemarnya.
Untuk kawula muda di kota Demak dan sekitarnya Grup Musik “Hero was Die “ ini tidak asing ditelinga mereka. Lagu-lagu yang disajikan juga khas , sehingga dimanapun mereka manggung selalu bisa dikenali corak musiknya yang keras dan menghentak . Meski bagi sebagian orang yang kurang suka dianggap memekakkan telinga , namun bagi pencintanya hal itu memang yang dicari .
“ Ya karena yang saya sajikan jenis musik keras ala Punk Rockabilly , maka penggemar  grup musik ini  kebanyakan kawula muda , utamanya pelajar dan mahasiswa. Memang kami ingin tampil beda agar mereka tahu eksistensi kita para kawula muda yang harus keras dan bersemangat “, ungkap Fakhru  pimpinan “ Hero Was Die “ pada Warta Demak.
Grup music yang beranggotakan Tiga orang yang berstatus Siswa, Mahasiswa dan Wiraswasta menurut Fakhru didirikan dengan tujuan untuk persatuan , perdamaian dan saling menghargai diantara kita . Oleh karena itu diharapkan “Hero Was Die “ bisa sebagai sosok pahlawan yang dapat mempersatukan sekaligus mengontrol kondisi lingkungan agar menjadi yang lebih baik. Oleh karena itu diantara lagu-lagunya yang diharapkan bisa membangkitkan kebersamaan seperti , Bangkit Bersama, Menuju Sahabat,Hero Was Die dan Don’t Coming Back.
“ Saya berharap dengan lagu-lagu yang kami sajikan bisa membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan diantara kita , saat ini hal seperti itu sulit kita dapatkan “ tambah Fakhru
Selain pentas diberbagai panggung pertunjukan secara umum grup musik “Hero Was Die “ ini juga tampil diperhelatan seperti Acara ulang tahun, peresmian dan juga manggung di cafĂ©. Sehingga kemampuan mereka dalam menghibur tidak diragukan lagi. Apalagi dalam perjalanan bermusik mereka yang hampir 5 tahun ini telah menelorkan 7 lagu dalam album perdana dan sudah dinikmati oleh penggemarnya. Dalam tahun 2012 ini ada rencana untuk record lagi , namun karena keterbatasan dana keinginan tersebut belum kesampaian.
“ Untuk lagu sudah kita persiapkan om , namun karena dana belum siap kita tunda dulu rencana untuk record lagi “ paparnya.
Selain live pertunjukan grup “ Hero Was Die” ini juga pernah manggung di TVRI Semarang dan juga Radio untuk mengisi salah satu acara musik. Pengalaman cukup berkesan  ketika manggung di Jakarta , grupnya menampilkan lagu-lagu kritikan terhadap jalannya pemerintahan  da karena disana banyak band yg sama  menyuarakan sebuah perlawanan terhadap sistem pemerintahan yg hancur.
“ Nah bagi pembaca dimana saja yang ingin bertukar pengalaman dan juga menikmati sajian musik kami bisa berhubungan dengan grup music kami “ kata Fakhru  yang telah sukses tampil di acara Demak bernyawa di stadion Koni Demak belum lamaini . bagi yang berminat  mendatangkan grup music ini bisa menghubungi   nomor HP :  +6285 351008723  . (Fatkh.M)

Taken from : Warta Demak
13.14 | 0 komentar

Navicula-Green Grunge Gentlemen


Navicula
Bagi saya, ben 'bagus' itu adalah ben yang esensial. Bagi sebagaian orang, arti ben bagus akan bervarian maknanya. Padanan kata 'bagus' seolah mengerucutkan asumsi pada ranah subjektif. Namun ben bagus bagi saya juga tak berlaku lantaran sering diputar radio, rajin masuk tv, atau mendapat rating RBT yang tinggi. Kami tidak memakai gaya bahasa pasar dalam hal ini.
Untuk mencapai derajat yang dimaksud, memang tak semudah membalikkan telapak tangan – bahkan membolak-balikkan otak pun belum jaminan. Masa transisi sebagai proses pembentukan karakter. Dan lagi, nilai bagus tak sekedar musikal saja namun juga mengetahui kultur genre itu sendiri.
Sebagai negara berkembang, Indonesia tak banyak memiliki musisi/grup berkonsep orisinil. Justru sebaliknya, kita banyak mengadopsi kultur musik. Secara hakiki manusia, pengaruh memang tak bisa dipungkiri. Namun, bukan berarti harus mutlak menjiplak.
Begitupun di ranah Grunge lokal, pengadopsian kultur Seattle Sound yang kami amati di sini tak banyak menemukan progres yang signifikan. Apalagi sejak kematian misterius Kurt Cobain (Nirvana) hanya menjadi panutan mentok. Dari itu semua, NAVICULA adalah pengecualian. Ada cita rasa yang berbeda dari label Green Grunge Gentleman ini. Mulai dari musik, lirik, ideologi, live performance, mereka punya semua. Kami seperti mendapat paket istimewa. Layaknya rokok, aroma grunge pyschedelic asal pulau dewata ini terasa elektik. Atau, jangan-jangan yang kami hisap ini adalah ganja??? Whoaaa...
Navicula
Belum lama ini, Navicula yang berjemaah Robi (vokal & gitar), Danki (gitar), Made (bas), Gembull (dram) merampungkan padakarya-tama (baca: album) yang ke-6 bertajuk "Salto". Manuver jungkir balik, gerakan berputar 360 derajat dipakai sebagai titel album, merujuk pada siklus penuh Navicula yang telah koprol-kayang-centang perenang sejak 1996. Plus, hasrat menggarap album termutakhir ini nyala semangat setara gigantiknya seperti ketika menggarap album perdana.
Rentetan tur & live berkelanjutan sesudah-nya, merantau dari satu panggung ke panggung lainnya. Hingga pada titik momen kami menyudahi niatan wawancara. Kesempatan yang sudah kami tunggu sejak lama. Maka, kalian para hulubalang grunge, kini sambutlah Navicula...
Green Grunge Gentleman datang, salto, dan menang!
05.30 | 0 komentar

For I'am Not a Musician, I Have Nothing Against You #2

Kisah-kisah Tak Tercatat,Terekam, dan Terdokumentasikan


“Salah satu kelemahan orang Indonesia adalah dalam pendokumentasian.” Demikian kalimat pertama dalam buku “Blantika Linimasa”, sebuah buku yang berambisi untuk mencatat-rekam-mendokumentasikan perjalanan musik Bali. Sebuah buku yang tadinya saya pikir akan memberikan sebuah gambaran yang (relatif) komprehensif mengenai jejak perjalanan musik(sisi) Bali. Sebuah buku yang tadinya saya pikir akan mendokumentasikan dengan baik-benar-berbinar sebuah perjalanan tak sepi anak-anak muda yang penuh semangat.

Sebelum saya sempat memegang secara fisik buku tersebut, saya mendengar banyak cerita tak puas. Saya pikir, cerita tak puas itu hanya semacam ungkapan kekecewaan karena kisah dimana mereka berada tak terdokumentasikan dalam buku tersebut. Masih biasa saja menurut saya. Sampai beberapa saat kemudian saya masih saja mendengar cerita tidak puas (dari orang yang berbeda) dan sama seperti si manis jembatan ancol, saya penasaran. Saya mulai mencari tahu, siapa teman yang punya buku itu, saya mendapatkannya dengan sedikit pesan dari si empunya buku, “Kamu akan muntah.” Hmm saya tambah penasaran…

Setelah berulang kali bolak-balik membaca dokumentasi tersebut, saya paham kenapa sekian orang yang saya temui kecewa dengan buku tersebut. Ya, terlalu banyak kejadian dan pelaku yang tidak tercatat (dihilangkan?) dari usaha pendokumentasian itu, terutama dari era 90an ketika (what so called) underground movement berjaya. Beberapa teman meminta saya menuliskan beberapa hal yang terlupakan (dilupakan?) dalam usaha pendokumentasian tersebut. Tapi saya terlalu malas untuk bergegas salto/koprol/kayang yang nantinya hanya akan membuat saya terlihat seperti atlet PON yang tidak dapat medali. Saya juga terlalu malas untuk silang argumentasi, adu mulut, baku bentak hanya untuk hal semacam ini, capai saya. Saya lebih suka bersantai dan bersenang-senang, berbicara pelan tanpa harus saling bentak dalam suasana yang akrab dan hangat (meskipun tak sehangat pantat panci diatas kompor, tidak apa-apa).

Akhirnya, saya sms-tilpun kesana kemari, memungut yang bisa dipungut, membaca yang bisa dibaca, mendengar yang bisa didengar, memerhatikan yang bisa diperhatikan, dan seterusnya. Belum sempat, saya menulis apa yang saya pungut-dengar-perhatikan saya mendapat panggilan kerja di sebuah kantor. Sebulan saya bekerja, akhirnya saya putuskan untuk berhenti kerja dan melanjutkan kembali apa sudah saya pungut-dengar-perhatikan. Bukan, apa yang saya lakukan samasekali bukan tindakan heroik, saya berhenti bekerja bukan hanya karena ingin menuliskan hal ini. Ada banyak alasan yang sangat tidak heroik.

Sebagaimana pengantar Blantika Linimasa, saya juga tidak akan merunduk-runduk minta maaf (karena saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun), saya juga tidak merasa telah bekerja keras hanya karena menuliskan hal ini (ini cuma hal biasa, yang bisa dilakukan disela kesibukan menghidupi hidup), jika hal ini memang pantas dihargai, saya ucapkan terimakasih, jika memang tidak pantas dihargai, saya ucapkan terimakasih juga, santai bung, santai…

Itu dokumentasimu
Ini dokumentasi kami...


OUTLINE KISAH TAK SENYAP

Tahun 90an, seingat saya waktu itu saya masih di SMA, kakak saya yang konstan mendengarkan thrash metal semenjak saya SD mulai beralih mendengarkan varian musik yang makin lama makin kencang. Napalm Death adalah soundtrack saya berangkat sekolah waktu itu dan setiap malam kuping saya hampir selalu diganggu As Sahar, Metallica, atau Sil Khanaz. Ya, saya besar mendengarkan musik-musik semacam itu, entahlah apa saya harus berterima kasih atau apa. Sampai pada suatu pagi, saya melihat sebuah kaset dengan sampul berwarna kuning dengan gambar dinosaurus memakai sombrero. Nama band itu Ramones. Band apa ini? Saya mengingat-ingat, dan saya samasekali tidak menemukan ingatan tentang Ramones. Saya coba putar kaset itu, saya langsung jatuh cinta. Ini band keren! Pikir saya. Semenjak itu, soundtrack saya adalah Ramones. Album Adios Amigos satu-satunya rekaman Ramones yang saya dengar waktu itu, diluar itu saya “terpaksa” mendengarkan band-band keluaran Valentine Sound Production dan/atau Nebiula Production. Beberapa saat kemudian, entah bagaimana ceritanya, sepulang sekolah saya menemukan Green Day album Dookie di rak kaset. Saya coba putar, tapi tidak sebagus Ramones, saya pikir. Beberapa saat kemudian kaset itu terlupakan, teman kakak saya datang membawa album Ramones Brain Drain. Saya ikut mencuri dengar.

Di sekolah, teman-teman saya lebih banyak mendengarkan Green Day. Band tersebut sangat terkenal waktu itu. Semua band anak SMA meng-cover band tersebut, ada yang bagus ada yang sekedar cover. Waktu itu, acara musik yang paling besar dan terkenal adalah Sunday Hot Music, yang setiap minggu menampilkan band-band lokal Denpasar. Yang merajai panggung SHM waktu itu adalah Silhouette, band cover version Metallica; Kawitana (kalau tidak salah ini adalah band speed metal); Maiden Lais, band cover version Iron Maiden. Sewaktu reggae naik daun, yang merajai SHM adalah Double T. Band punk hanya sedikit terdengar waktu itu, dari sedikit itu ada Superman Is Dead dan Rest In Punk. Band metal yang banyak terdengar waktu itu Phobia dan Eternal Madness.

Setelah beberapa lama, SMH tak terdengar lagi kabarnya. Panggung bergeser ke Gor Lila Bhuana. Total Uyut pertama kali diadakan di Gor ini dan melahirkan band-band bagus seperti Criminal Asshole (band yang sangat sadar fashion dan dalam perkembangannya menjadi band political-street-punk pertama yang berbahasa Bali dan tetap dengan fashion yang all out), Total Idiot, Pokoke. Bersamaan dengan itu, Fakultas Sastra Udayana menjadi fakultas pertama dari semua universitas di Bali yang menjadi fakultas paling hidup. Ritme kehidupan mahasiswa sastra waktu itu, pagi kuliah, sore nongkrong membicarakan banyak hal dari gosip sampai ngobrol tentang lirik Rage Against The Machine. Dari tempat inilah fanzine musik pertama, Tikus Got, lahir dan hadir konstan beberapa edisi sebelum akhirnya menghilang. Fakultas sastra juga sering mengadakan acara musik yang mengundang band-band terebut diatas. Sampai kemudian ada saat dimana kampus tidak boleh digunakan untuk menggelar acara musik karena band-band yang diundang tidak jarang terlibat perkelahian dan dengan alasan polusi suara. Mahasiswa-mahasiswa itu tidak kehilangan akal dan menyiasatinya dengan Sastra Music Unplugged, acara unplugged pertama untuk band-band bawah tanah Denpasar.

Gor Lila Buana masih hidup sampai beberapa tahun, dan sempat melahirkan lebih banyak lagi band-band keren seperti Struggle Unity, Outside Fire, Ripper Clown, Orgasmatron, Reject, Rude Devil, dan banyak lagi. Bukan hanya band, literatur-literatur juga mulai tumbuh. Setelah Tikus Got menghilang, muncul Satu Zine yang terbit hanya sampai 3 edisi. Pasca Satu Zine, Straighthate Newsletter yang terbit hanya 2 edisi sempat membuat “keributan” dengan tulisan Punk is Dead yang banyak menjadi pembicaraan di scene punk Denpasar-Tabanan. Selain zine dan/atau newsletter phamplet-phamplet politis a la punk juga banyak menyebar pada masa itu. Di luar Denpasar; Tabanan, Sading, dan Tanjung Benoa adalah lokasi-lokasi mayoritas dimana scene musik tumbuh-berkembang-dan tak pernah mati. Komunitas musik, juga sangat bergairah saat itu, diawali oleh 19-21, kemudian berturut-turut muncul Underdog State, Mendung, HW, GS, Kesiman, dan Padang Sambian Rebellion Squadra dengan Biang Keroknya yang masih tetap bertahan sampai sekarang dan masih kerap menggelar acara musik.

Hari ini, pasca terkenalnya Superman is Dead, selain 19-21 dan Underdog State, Padang Sambian Rebellion Squadra masih bergerak dengan kekuatan penuh. Tidak ada kata pingsan apalagi mati; lahir-tumbuh-berkembang-liar-tanpa tuan-tak akan pernah mati. Setelah SiD merilis case 15, masih ada Kompilasi Underdog State (Various band dari Denpasar-Tabanan), Triple Six (Insistent Buchery of Massacre), Rude Devils (Self Title), Kompilasi For The Truth (Malang-Denpasar Hardcore), Criminal Asshole (lupa judul albumnya), Pokoke (Revolution), Reject (Denpasar Drunk Punx), dan masih banyak lagi band-band yang tidak layak dilupakan hanya karena mereka bergerak dibawah tanah. Mereka membuat setapak yang membuat wajah Youth Culture Denpasar (dan Tabanan) menjadi seperti sekarang.

Yang menarik dari scene Denpasar dan Tabanan adalah pengaruh yang melekat pada tubuhnya. Jika scene musik “atas” mendapat banyak pengaruh dari Bandung dan/atau Jakarta, maka scene musik “bawah” mendapatkan banyak pengaruhnya dari Malang dan Surabaya yang menurut saya lebih menonjolkan kultur jalanan dan egalitarian. Diluar Nuclear Blast dan Earache, tidak bisa dilupakan juga peranan label rekaman Malaysia dan/atau Singapura (VSP dan Nebiula) yang banyak memberikan sumbangan pada awal-awal tumbuh-kembang scene Denpasar. Peredaran kaset bajakan dari Lost and Found, Epitaph, dan entah apa lagi yang terkadang sudah tak terbaca lagi karena saking seringnya berpindah tangan juga memiliki banyak peran. Jejak yang paling jelas terlihat dari scene punk Denpasar-Tabanan adalah pengaruh scene Inggris yang lebih kasar daripada Amerika yang lebih sopan. Lihat (atau dengarkan), misalnya rekaman Criminal Asshole (Pejah Ing Ranang Gana/2005), rekaman ini berisi demo antara tahun 97-98, berbahasa Bali, dengan nuansa anarkistik secara sound dan lirik. Demikian penggalan lirik “Amah Tai”: “Ci pejabat ulian nyangut, bungut gebuh liun peta, demokrasi mati ngasen, sing ada apa cicing naskleng, amah tai…amah tai”

Kekuatan band-band jenis ini jelas bukan pada penjualan album yang aduhai banyaknya. Band-band ini (Criminal Asshole, misalnya), tidak terikat pada pasar melainkan membentuk sendiri pasarnya meski terbatas. Album terbaru mereka, Rain Chaos misalnya hanya dicetak terbatas 30 cd, tanpa dukungan media atau publikasi yang cukup. Tanpa itupun mereka tetap bertahan “menghajar jalanan”. Keberadaan mereka selama belasan tahun yang terekam di sekian banyak kepala bukan hanya karena album-album yang terjual dalam jumlah yang fantastis, melainkan karena konsistensi mereka dalam scene ini. Acara-acara musik yang digelar pun masih tetap berlanjut sampai sekarang meski tidak dalam skala yang besar dengan sistem patungan, dimana tiap band dikenai biaya sekian rupiah untuk sewa tempat, sound, minus sponsor; hal semacam ini yang tidak banyak mendapat perhatian. . . (text and photo courtesy of warcd)


taken from : Magic Ink Tattoo Magazine
08.42 | 0 komentar

Desperados-Countrybilly

Desperados

Jogjakarta,Berawal dari pertemuan mereka atas pecahnya band (rock n roll) AntiMosquito yakni sang maha drummer yang perkasa , tuan JOJO dan seorang vocalist yang kini mulai belajar untuk bermain GITAR , yaitu sang maha keren Mr. TITO PRISHA. Mereka pun menggeluti kerasnya dunia klasik dan mencoba untuk menjalani hitamnya PSYCHOBILLY. Bertahun-tahun dunia barat dijelajahi , bertemulah kedua bangsat tersebut dengan seorang pengembara menuju ke timur. 
Dengan menyangking kontra bass (upright bass , bass betot) yang sangat berat, sang tuan ESTU menyapa hangat kedua bangsat tersebut. Inisiatif gila pun tercetus ke dalam mereka , pikiran ke depan terbentang , mereka membendung bakat mereka menjadi sebuah band yang bernama DESPERADOS. Dan dari sinilah kehidupan ekstrim mereka berkibar.

Tito Prisha
EZT Nugroho
JOEJO Widy




















Lagu-lagu mereka bisa kalian unduh disini :

1. Esmeralda  unduh

2. Road Runner  unduh

3. When The Sun Goes Down  unduh




Kunjungi page mereka disini :


14.55 | 2 komentar

1997-2009: The Early Years, Blood, Sweat, and Tears

The Early Years, Blood, Sweat, and Tears

There are so many rules in the country of Indonesia.

Firstly, the government gives you laws. Secondly, your religion threatens you, with heaven and hell. Thirdly your parents ban you from doing anything cool. While at school, you are dictated to about doing the right thing, and being the right person. Even worst, music—which is supposed to be about freedom and wild imagination—presses you with oh-so many do’s and don’ts: give the people what they want, follow the trends, change your lyrics, reconstruct your look, this, that, no, yes, right, wrong, …phew.

But Superman Is Dead have never been, are not, and (I believe) won’t be like soldiers under command, or obey regulations. Bobby Kool, Eka Rock and JRX have always chosen their own paths, since day one. Some suit the rules, some don’t. And they don’t care. They dress up and drink, shout and scream, play instruments carelessly, sing pretty badly, do whatever they believe, do whatever their heart tells them to.

Yet again, in this country, it isn’t easy to be independent. To be who you are is basically to go against the nation. Meaning not much support from (mainstream) media. Not much trust from the label/music professionals. Not enough backup from the scene. The decision by the Kuta trio to do it their own way was not a wise decision—not to be a weakass Indonesian band, especially. (In case you don’t know, in the local scene, "weakass" equals "normal" or "flexible" or "market oriented"). The road had become more rockier because of the flag they flew. It’s been a long, exhausting, winding road. Blood, sweat and tears. But these three broke young men didn’t give up. They had already been in the scene far too long. The only option left was to move forward. They stepped forward. Carrying hopes and loud guitars. And beer.

Here they are today, having become the biggest punk rock band in Indonesia. Maybe the biggest band in Indonesia in the very near future. Maybe not. But that’s not the point. You should understand by now, the main point here is to stay true, to stick to what you believe in. Or in Superman Is Dead case: to stay badass.

To stay badass, bitch.

RUDOLF DETHU
First manager, beer buddy, propagandist

Vinyl
Track List
1. Old World
2. Get In Touch
3. Kuta Rock City
4. Hanya Hari Ini
5. Lady Rose
6. Bukan Pahlawan
7. Pulang
8. Jika Kami Bersama

How to order, and more info, click here.
08.26 | 0 komentar

Jerinx "SID" Jatuh Cinta kepada "Rita"


Jrx
JAKARTA, KOMPAS.com -- Bagi I Gede Ari Astina (35), yang terkenal dengan nama Jerinx atau JRX sebagai personel band-band Superman Is Dead  (SID) dan Devildice, bisnis busana dan pernik-pernik pelengkapnya bukanlah merupakan usaha semata, melainkan juga mencerminkan sikap. Salah satu contohnya, label clothing miliknya, Rumble (RMBL), mengeluarkan paket limited edition Rumble Rita (RMBL x RITA).
           
Dijelaskan melalui page Facebook (FB) Rumble Online Store, RMBL x RITA merupakan sebuah proyek penghormatan atas keberadaan minyak rambut Rita. Minyak rambut yang merupakan warisan klasik Indonesia tersebut beredar sejak 1948. Pabriknya berada di Surabaya, Jawa Timur.

Disebut pula, minyak rambut itu konsisten dengan estetika old school-nya. RMBL melihat konsistensi tersebut, "Sebagai refleksi dari dedikasi baja, yaitu menjadi diri sendiri di tengah gempuran persepsi 'cool' nan generik dari para fashionista karbitan. Di dunia yang makin plastik ini, that’s what we called ATTITUDE!" Dalam wawancara melalui BBM-nya (BlackBerry Messenger-nya). kepada Kompas.com, Jumat (2/3/2012) sore, JRX pun mengutarakan bahwa minyak rambut itu, "Ga ngerubah kemasan, artwork dan harganya tetap murah... Ada kesan idealis yang kuat :) Ga Tersentuh trend/teknologi."

Minyak rambut tersebut ternyata bukan barang asing bagi JRX. "Iya, dulu 1996-97 pas baru2 kenal culture rockabily, saya kebingungan cari minyak rambut yg bisa bikin rambut klimis..." cerita sang drummer yang juga menyanyi dan bermain gitar. "Ga sengaja nemu Rita, dan langsung jatuh cinta krn kemasannya kaleng..." sambungnya.

JRX mengaku mendapat gagasan untuk memberi penghormatan terhadap keberadaan minyak rambut itu ketika ia ingin memadukan label clothing-nya dengan sesuatu yang berenergi tak lekang oleh waktu dan justru tidak trendy. "Rita kan sama sekali ga populer di kalangan anak gaul," terangnya.

Paket RMBL x RITA terdiri dari sebuah t-shirt Rumble Rita, satu kaleng kecil pomade Rita, sebuah sisir bertulis Live Fast Die Handsome, dan selembar poster Rumble Rita.
Bagian punggung t-shirt hitam itu bergambar seorang perempuan (dari kepala hingga pinggang) yang mengenakan gaun korset klasik berwarna pink. Bagian dada kiri t-shirt tersebut bergambar gunting rambut, pisau cukur, serta dua bintang, plus tulisan Rumble Rita. T-shirt itu, termasuk gambar perempuannya, dirancang oleh Adi, rekan kerja JRX dalam RMBL. "Yg jelas, artwork itu terinspirasi dari artwork di kemasan Rita :)," tulisnya lagi.
Sementara itu, ide memasukkan sisir dalam paket tersebut datang dari JRX. Sisir merupakan perlengkapan dandan yang amat dekat dengan rambut.

Jumlah paket limited edition itu hanya 100. Setiap t-shirt-nya diberi nomor urut, dari 1 hingga 100. Sementara itu, jumlah sisirnya cuma tersedia untuk 25 pembeli pertama paket tersebut. Paket itu bisa dipesan dan dibeli hanya secara online.

Menurut JRX, produsen Rita tak mendapat bagian uang dari proyek itu. RMBL membeli putus 100 kaleng pomade tersebut.

JRX mengaku mengoleksi satu paket itu. "Punya dong," tutupnya. Ia pun mengaku masih memakai minyak rambut tersebut. "Kadang masih," tulisnya.
14.51 | 0 komentar
Jika terdapat link free download di blog ini hanya semata review CD Album /hasil karya mereka dan bukan pembajakan.karena saya pribadi tidak memungut biaya kepada siapapun untuk blog ini. Dan untuk teman-teman yang mengunjungi blog ini, support musisi lokal kita dengan cara membeli merchandise, CD/Album original mereka :)


Kalian punya band yang terbentuk dari komunitas outSIDer? dan ingin saya posting di blog ini? kirimkan biografi dan demo lagu (jika ada)kamu ke email fakhruoutsider@gmail.com

Support our local talent!

Cheers!!

Blog Archives

Cari Blog Ini

Statistik

Google+ Followers